Semakin
hari semakin memburuk saja. Ya, itulah diriku. Setelah mendapatkan pesan
perpisahan itu, aku semakin bingung dan tak tahu arah. Tak tahu arah disini
bukan yang menjurus ke negatif, tetapi aku tak tahu arah, apa yang sedang ku
alami sekarang ini?
Oke,
kita sekarang sudah tidak berstatus lagi. Dan itu yang membuatku semakin
bingung. Status kita ini apa? Benar-benar aneh, kita sudah sepakat untuk tidak
ada status apa-apa, tapi apa yang kita lakukan itu PERSIS seperti apa yang kita
lakukan ketika kita masih berstatus. Dari cara bicaramu, cara sms mu,
cara memanggilku, dan sampai-sampai kebiasaan yang kita lakukan, entah kecil
atau besar.
Aku hanya
tidak ingin memunafikkan diriku. Aku percaya kok, kamu mengambil keputusan itu
pasti dengan pemikiran yang sekiranya matang dan juga kamu telah
mempertimbangkan semuanya. Semua yang telah kita putuskan ini seharusnya kita
lakukan dengan bijak. Bukannya aku tidak menginginkan kedekatan kita, tetapi
jika kita terus berlanjut seperti ini, dampaknya ke siapa? Kamu juga kan?
Mulai
dari orangtua sampai sekelilingmu. Apa yang bisa kamu perbuat? Seolah-olah kamu
tidak pernah mengirim sms perpisahan itu. Okelah, ku maklumi. Kita masih
harus ber-adaptasi. Tapi dari sekian hari setelah hari itu, satu alasan yang
selalu kamu ungkap. Bahwa kita harus MENJAGA SILATURRAHMI. Itu memang benar. Tapi
kenapa kita mengartikannya salah?
Aaargh,
aku bingung. Oke, aku senang kita bisa seperti dahulu. Tapi kalau itu merugikan
kamu? Apa aku patut buat senang?
Sudahlah,
apapun itu. Aku tetep percaya kamu kok, dengan segala keputusanmu juga
tentunya. We’ll pass it together, right? Kita sering kok ngomongin
kalimat itu. Ya, pastinya harapannya sih kita memang benar-benar bisa pass
it together J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar